Rabu, 23 September 2009

IMUNISASI

Macam-macam Antibodi :

1. IgG :

- Komponen utama Ig serum (75%)

- Dapat menembus Placenta

- Terbentuk pada respons sekunder

- Anti bakteri, anti virus, anti jamur

2. IgM :

- Imunoglobulin terbesar

- Respons imun primer

- Mencegah gerakan mikroorganisme sekunder

- Mengaktifkan komplemen

3. IgA :

- Terbentuknya pd rangsangan selaput lendir

- Kekebalan infeksi saluran nafas, pencernaan, urogenitalis

- Fiksasi komplemen, antitoxin, reaksi aglutinasi, anti virus

4. IgD :

- Sangat rendah dalam sirkulasi

- Fungsi belum jelas

5. IgE :

- Sangat sedikit jumlahnya

- Tinggi pada alergi, fiksasi komplemen, infeksi cacing, infeksi parasit

SELULER

Peranan dari limfosit T atau sel T dimana Sel T dibentuk di sumsum tulang ” Proliferasi dan diferensiasi terjadi di kelenjar Timus

Fungsi : Pertahanan terhadap bakteri (intraselular), virus, jamur, parasit, keganasan

Terdiri dari

1. Helper T-cell membantu sel B

1. Suppressor T-cell :

- Menghambat sel B

- Menghambat sel T

3. Cytotoxic T-cell : Menyerang antigen secara langsung

Imunisasi Pasif Didapat

Kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh bukan oleh individu itu sendiri, misalnya kekebalan bayi yang diperoleh dari ibu setelah pemberian Ig serum Daya lindung pendek ( 2 – 3 minggu)

• Contoh :

- Gama globulin murni penderita – campak

- ATS, ADS, Anti rabies, Anti – Snake venom

- Profilaksi & terapeutik ( pengobatan )

Reaksi aktopik

Terjadi beberapa menit dimana tubuh mengalami Shock berat, gatal seluruh tubuh, urticaria tempat suntik ” meluas, gelisah, pucat, cyanosis, dyspnoe, kejang ” mati

Therapi : Adrenalin, Corticosteroid

Serum sickness

Masa tunas : 6 – 24 hari

Panas, urticaria, exanthema, muntah, berak, bahaya urticaria (oedem) glottis ” tercekik.

Therapi : Adrenalin, Corticosteroid, Anti Histamin

Pemberian ke II (ulangan)

1. Ana phylactic reaction :

Masa tunas : Beberapa menit – 24 jam

Gejala : Sama reaksi atopik - < ringan

2. Accelerated Reaction :

Masa tunas : 1 – 5 hari

Gejala : Sama serum sickness " Pemberian serum – test lebih dahulu

Test pemberian serum

1. Skin test : 0,1 ml seru 1/10 – intra kutan tunggu 15 menit : " infiltrat > 10 mm

2. Eye test : 1 tetes serum kemudian tunggu 15 menit : + ” mata bengkak merah

Bila skin dan atau eye test positif ” pemberian Serum : Cara Bersedka

- 0,1 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis – Subkutan – tunggu ½ jam reaksi

- 0,5 ml serum dlm 1 ml air garam fisiologis – Subkutan – tunggu ½ jam reaksi

- Sisa serum ” Intra Muskular

Tujuan Imunisasi

• Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang

• Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi

Keberhasilan Imunisasi tergantung faktor:

1. Status Imun Penjamu:

• Adanya Ab spesifik pada penjamu ® keberhasilan vaksinasi, mis:

- campak pada bayi

- kolustrum ASI – IgA polio

• Maturasi imunologik: neonatus ® fungsi makrofag¯,kadar komplemen¯, aktifasi optonin¯.

• Pembentukan Ab spesifik terhadap Ag kurang ® hasil vaksinasi ¯ ® ditunda sampai umur 2 bulan.

• Cakupan imunisasi semaksimal mungkin agar anak kebal secara simultan, bayi diimunisasi

• Frekuensi penyakit ­, dampaknya pada neonatus berat ® imunisasi dapat diberikan pada neonatus.

• Status imunologik ¯ (spt defisiensi imun) ® respon terhadap vaksin kurang.

2. genetik

secara genetik respon imun manusia terhadap Ag tertentu ® baik, cukup, rendah ® keberhasilan vaksinasi tidak 100%

4. kualitas vaksin

a. cara pemberian, misal polio oral ® imunitas lokal dan sistemik

b. Dosis vaksin

- tinggi ® menghambat respon, menimbulkan efek samping

- rendah ® tidak merangsang sel imunokompeten

c. Frekuensi Pemberian

Respon imun sekunder ® Sel efektor aktif lebih cepat, lebih tinggi produksinya, afinitas lebih tinggi. Frekuensi pemberian mempengaruhi respon imun yang terjadi . Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar Ab spesifik masih tinggi ® Ag dinetralkan oleh Ab spesifik ® tidak merangsang sel imunokompeten.

d. Ajuvan : Zat yang meningkatkan respon imun terhadap Ag

• mempertahankan Ag tidak cepat hilang

• Mengaktifkan sel imunokompeten

e. Jenis Vaksin

Vaksin hidup menimbulkan respon imun lebih baik.

Kandungan vaksin

1. Antigen ® virus, bakteri

- vaksin yang dilemahkan: polio, campak, BCG

- vaksin mati : pertusis

- eksotoksin : Toksoid, dipteri, tetanus

1. Ajuvan : persenyawaan aluminium
2. Cairan pelarut : air, cairan garam fisiologis, kultur jaringan, telur.

Hal – hal yang merusak vaksin:

• Panas ® semua vaksin

• Sinar matahari ® BCG

• Pembekuan ® toxoid

• Desinfeksi/antiseptik : sabun

Jadwal Imunisasi

• Untuk keseragaman

• Mendapatkan respon imun yang baik ® Berdasarkan keadaan epidemiologi, prioritas penyebab kematian, kesakitan

IMUNISASI BCG

Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi M. tuberculosa 100%, tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut, Berasal dari bakteri hidup yang dilemahkan ( Pasteur Paris 1173 P2), Ditemukan oleh Calmette dan Guerin

• Diberikan sebelum usia 2 bulan Disuntikkan intra kutan di daerah insertio m. deltoid dengan dosis 0,05 ml, sebelah kanan

• Imunisasi ulang tidak perlu, keberhasilan diragukan

Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0,9%. Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya dibuang. Penyimpanan pada suhu Cara penyuntikan BCG

• Bersihkan lengan dengan kapas air

• Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berlubang menghadap keatas.

• Suntikan 0,05 ml intra kutan

- merasakan tahan

- benjolan kulit yang pucat dengan pori- pori yang khas diameter 4-6 mm

Kenapa suntikan intra kutan?

• Vaksin BCG ® lapisan chorium kulit sebagai depo ®berkembang biak® reaksi indurasi, eritema, pustula

• Setelah cukup berkembang ® sub kutan® kapiler, kelenjar limfe, peredaran darah

Bayi kulitnya tipis®intra kutan sulit ® sering suntikan terlalu dalam (sub kutan)

Reaksi sesudah imunisasi BCG

1. Reaksi normal ® lokal

• 2 minggu ® indurasi, eritema, kemudian menjadi pustula

• 3-4 minggu ® pustula pecah menjadi ulkus (tidak perlu pengobatan)

• 8-12 minggu ® ulkus menjadi scar diameter 3-7 mm.

2. Reaksi regional pada kelenjar

• Merupakan respon seluler pertahanan tubuh

• Kadang terjadi ® di kelj axila dan servikal (normal BCG-it is)

• Timbul 2-6 bulan sesudah imunisasi

• Kelenjar berkonsistensi padat, tidak nyeri, demam (-)

• Akan mengecil 1-3 bulan kemudian tanpa pengobatan.

Komplikasi

1. Abses di tempat suntikan

• Abses bersifat tenang (cold abses) ® tidak perlu terapi

• Oleh karena suntikan sub kutan

• Abses matang ® aspirasi

2. Limfadenitis supurativa

• Oleh karena suntikan sub kutan atau dosis tinggi

• Terjadi 2-6 bulan sesudah imunisasi

• Terapi tuberkulostatik ® mempercepat pengecilan.

Reaksi pada yang pernah tertular TBC:

• Koch Phenomenon ® reaksi lokal berjalan cepat (2-3 hari sesudah imunisasi) ® 4-6 minggu timbul scar.

• Imunisasi bayi > 2 bulan ® tes tuberkulin (Mantoux)

• Untuk menunjukkan apakah pernah kontak dengan TBC

• Menyuntikkan 0,1 ml PPD di daerah flexor lengan bawah secara intra kutan

• Pembacaan dilakukan setelah 48 – 72 jam penyuntikan

• Diukur besarnya diameter indurasi di tempat suntikan.

• Kontraindikasi

• Respon imunologik terganggu : infeksi HIV, def imun kongenital, leukemia, keganasan

• Respon imunologik tertekan: kortikosteroid, obat kanker, radiasi

• Hamil

IMUNISASI HEPATITIS B

• Vaksin berisi HBsAg murni

• Diberikan sedini mungkin setelah lahir

• Suntikan secara Intra Muskular di daerah deltoid, dosis 0,5 ml.

• Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C

• Bayi lahir dari ibu HBsAg (+) diberikan imunoglobulin hepatitis B 12 jam setelah lahir + imunisasi Hepatitis B

• Dosis kedua 1 bulan berikutnya

• Dosis ketiga 5 bulan berikutnya (usia 6 bulan)

• Imunisasi ulangan 5 tahun kemudian

• Kadar pencegahan anti HBsAg > 10mg/ml

• Produksi vaksin Hepatitis B di Indonesia, mulai program imunisasi pada tahun 1997

Efek samping

• Demam ringan

• Perasaan tidak enak pada pencernaan

• Rekasi nyeri pada tempat suntikan

Tidak ada kontraindikasi

IMUNISASI POLIO

• Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dilemahkan, dibuat dlm biakan sel-vero : asam amino, antibiotik, calf serum dalam magnesium klorida dan fenol merah

• Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.

• Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml)

• Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu

• Imunisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI

• Anak diare ® gangguan penyerapan vaksin.

• Ada 2 jenis vaksin

- IPV ® salk

- OPV ® sabin ® IgA lokal

• Penyimpanan pada suhu 2-8°C

• Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur jaringan maupun tubuh penerima vaksin

• Beberap virus diekskresi mengalami mutasi balik menjadi virus polio ganas yang neurovirulen

• Paralisis terjadi 1 per 4,4 juta penerima vaksin dan 1 per 15,5 juta kontak dengan penerima vaksin

Kontra indikasi : defisiensi imunologik atau kontak dengannya

IMUNISASI DPT

Terdiri dari

- toxoid difteri ® racun yang dilemahkan

- Bordittela pertusis ® bakteri yang dilemahkan

- toxoid tetanus ® racun yang dilemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat

• Merupakan vaksin cair. Jika didiamkan sedikit berkabut, endapan putih didasarnya

• Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada bayi kecil.

• Dosis 0,5 ml secara intra muskular di bagian luar paha.

• Imunisasi dasar 3x, dengan interval 4 minggu.

• Vaksin mengandung Aluminium fosfat, jika diberikan sub kutan menyebabkan iritasi lokal, peradangan dan nekrosis setempat.

Reaksi pasca imunisasi:

• Demam, nyeri pada tempat suntikan 1-2 hari ® diberikan anafilatik + antipiretik

• Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasi ® demam > 40°C, kejang, syok ® imunisasi selanjutnya diganti dengan DT atau DPaT

Kontraindikasi

• Kelainan neurologis n terlambat tumbuh kembang

• Ada riwayat kejang

• Penyakit degeneratif

• Pernah sebelumnya divaksinasi DPT menunjukkan: anafilaksis, ensefalopati, kejang, renjatan, hiperpireksia, tangisan/teriakan hebat.

IMUNISASI CAMPAK

Vaksin dari virus hidup (CAM 70- chick chorioallantonik membrane) yang dilemahkan + kanamisin sulfat dan eritromisin Berbentuk beku kering, dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades.

• Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang diperoleh dari ibu.

• Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri.

• Disimpan pada suhu 2-8°C, bisa sampai – 20 derajat celsius

• Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8°C

• Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan, diulang 6 bulan kemudian

Efek samping: demam, diare, konjungtivitis, ruam setelah 7 – 12 hari pasca imunisasi. Kejadian encefalitis lebih jarang

Kontraindikasi:

* infeksi akut dengan demam, defisiensi imunologik, tx imunosupresif, alergi protein telur, hipersensitifitas dng kanamisin dan eritromisin, wanita hamil.
* Anak yang telah diberi transfusi darah atau imunoglobulin ditangguhkan minimal 3 bulan.
* Tuberkulin tes ditangguhkan minimal 2 bulan setelah imunisasi campak

IMUNISASI HIB

• Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Haemofilus influenza tipe B

• Diberikan MULAI umur 2-4 bulan, pada anak > 1 tahun diberikan 1 kali

• Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit.

• Dosis 0,5 ml diberikan IM

• Disimpan pada suhu 2-8°C

• Di Asia belum diberikan secara rutin

• Imunisasi rutin diberikan di negara Eropa, Amerika, Australia.

IMUNISASI MMR

Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari:

- Measles strain moraten (campak)

- Mumps strain Jeryl lynn (parotitis)

- Rubela strain RA (campak jerman)

• Diberikan pada umur 15 bulan. Ulangan umur 12 tahun

• Dosis 0,5 ml secara sub kutan, diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan imunisasi lain.

Kontra indikasi: wanita hamil, imuno kompromise, kurang 2-3 bulan sebelumnya mendapat transfusi darah atau tx imunoglobulin, reaksi anafilaksis terhadap telur

IMUNISASI TYPHUS

Tersedia 2 jenis vaksin:

- suntikan (typhim) ® >2 tahun

- oral (vivotif) ® > 6 tahun, 3 dosis

• Typhim (Capsular Vi polysaccharide-Typherix) diberikan dengan dosis 0,5 ml secara IM. Ulangan dilakukan setiap 3 tahun.

• Disimpan pada suhu 2-8°C

• Tidak mencegah Salmonella paratyphi A atau B

• Imunitas terjadi dalam waktu 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi

Reaksi pasca imunisasi: demam, nyeri ringan, kadang ruam kulit dan eritema, indurasi tempat suntikan, daire, muntah.

IMUNISASI VARICELLA

Vaksin varicella (vaRiLrix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. Bisa diberikan pada umur 1 tahun, ulangan umur 12 tahun. Vaksin diberikan secara sub kutan Penyimpanan pada suhu 2-8°C

Kontraindikasi: demam atau infeksi akut, hipersensitifitas terhadap neomisin, kehamilan, tx imunosupresan, keganasan, HIV, TBC belum tx, kelainan darah.

Reaksi imunisasi sangat minimal, kadang terdapat demam dan erupsi papulo-vesikuler.

IMUNISASI HEPATITIS A

Imunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan, pada anak umur > 2 tahun. Imunisasi dasar 3x pada bulan ke 0, 1, dan 6 bulan kemudian. Dosis vaksin (Harvix-inactivated virus strain HM 175) 0,5 ml secara IM di daerah deltoid. Reaksi yag terjadi minimal kadang demam, lesu, lelah, mual-muntah dan hialng nafsu makan

VAKSIN COMBO

Gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda, misal DPT + hepatitis B +HiB atau Gabungan beberapa antigen dari galur multipel yg berasal dari organisme penyakit yang sama, misal: OPV

Tujuan pemberian

• Jumlah suntikan kurang

• Jumlah kunjungan kurang

• Lebih praktis, compliance dan cakupan naik

• Penambahan program imunisasi baru mudah

• Imunisasi terlambat mudah dikejar

• Biaya lebih murah

Daya proteksi

Titer antibodi salah satu antigen lebih rendah namun masih diatas ambang protektif. Efektivitasnya sama di berbagai jadwal imunisasi. Bisa terjadi kemampuan membuat antibodi utk mengikat antigen berkurang. Dapat terjadi respon imun antigen kedua berubah. Reaktogenitas yang ditentukan terutama oleh ajuvan tidak berbeda jauh. Nyeri berat lebih sering terjadi pada vaksin kombo (Bogaerts, Belgia). Cakupan imunisasi menjadi lebih tinggi. KIPI pada dosis vaksin ekstra tidak bertambah

COLD CHAIN (RANTAI DINGIN)

• Vaksin harus disimpan dalam keadaan dingin mulai dari pabrik sampai ke sasaran.

• Simpan vaksin di lemari es pada suhu yang tepat

• Pintu lemari es harus selalu tertutup dan terkkunsi

• Simpan termometer untuk memonitor lemari es.

• Taruh vaksin Polio, Campak, pada rak I dekat freezer.

• Untuk membawa vaksin ke Posyandu harus menggunakan vaccine carrier/ termos yang berisi es.

Disadur dari tulisan : dr. B Gebyar TB, SpA

Selasa, 08 September 2009

AVIAN INFLUENZA (FLU BURUNG)

TENTANG AI


Penyebab Avian Influenza



Virus Yang Tergolong :

Famili : Orthomyxoviridae

Genus : Virus Influenza Tipe A

8 RNA Gene Segments

2 Glikoprotein Permukaan Penting :

Hemaglutinin (H) : 1 � 16

Neuraminidase (N) : 1 � 9

Subtipe Virus AI Ditentukan Berdasarkan H DAN N



Sifat-Sifat Virus Avian Influenza



* Mudah Mengalami Mutasi
* Virus Mudah Mati Di Luar Tubuh Ayam (Tidak Stabil Di Lingkungan)

o Mudah mati oleh panas, kekeringan, sinar ultraviolet, dan berbagai desinfektan yang umum di lapangan (deterjen, Bahan yang mengandung formalin, yodium amonium kuaternar, NA-Hipoklorit, Klorin, Senyawa Fenol)



Ekologi Virus Avian Influenza



* Virus AI dapat menginfeksikan berbagai jenis unggas dan mamalia dan menimbulkan penyakit yang fatal.
* Hospes alami dan reservoir virus AI adalah unggas air liar
* Unggas air biasanya menunjukan infeksi pencernaan asimptomatik, tetapi dapat membebaskan virus dalam jumlah yang besar melalui feses
* Virus HPAI tidak ditemukan pada reservoir unggas liar



Cara Penularan Virus AI



* Horizontal
o Dapat menular secara aerosol (kontak dekat - pernapasan) atau kotoran/bahan yang tercemar - mulut
o Langsung: kontak dengan ayam sakit atai reservoir virus AI (unggas lain)
o Tidak langsung: orang, bahan, perlengkapan/alat, kendaraan yang tercemar oleh virus AI



Sumber Virus Avian Influenza



* Ayam Sakit
o Leleran tubuh (hidung, mulut, mata)
o Feses
* Unggas Lain Yang Tertular Virus AI
o Burung puyuh, itik, angsa, burung peliharaan, burung liar
* Burung peliharaan sebagai sumber infeksi virus HPAI yang potensial
* Hewan lain (mungkin)
o Mamalia (khususnya babi)
* Manusia (pernah kontak dengan virus AI)
* Bahan, Peralatan, kendaraan yang tercemar virus AI

FLU BABI (SWINE INFLUENZA)

FLU BABI (SWINE INFLUENZA)


SEJARAH PANDEMIK FLU

* Tahun 1918 – 1919 di Spanyol disebut dengan “Spanish Flu”, penyebab utama virus H1N1 menyebabkan kematian 50 juta orang.
* Tahun 1968 – 1969 di Hongkong disebut “Flu Hongkong”, penyebab utama virus H3N2 menyebabkan kematian 1 juta orang
* Tahun 2009 di Amerika Utara (USA+Mexico), Eropa, Afrika, Australia, Selandia Baru dan Asia termasuk Indonesia, kematian 238 orang (sumber WHO, 24 Juni 2009), penyebab nya adalah virus H1N1

APA ITU FLU BABI (SWINE INFLUENZA)

* Penyakit pernafasan pada babi yang disebabkan oleh Virus influenza type – A (Orthomyxovirus)
* H1N1 , H1N2, H3N1, H3N2, H4N6 serta rekombinan lainnya
* H1N1 dan H3N2 yang paling umum dan berbahaya (high patogenic)
* Hewan rentan (mudah terinfeksi) adalah babi termasuk babi hutan (celeng)
* Virus tidak tahan panas, asam, detergen, tidak tahan lama di udara terbuka dan Desinfektan

MACAM-MACAM TIPE VIRUS INFLUENZA
Famili : Orthomyxoviridae (RNA Virus)

* Tipe A : Avian atau Unggas, Manusia, Babi, Kuda, mamalia
* Tipe B : Hanya Manusia
* Tipe C : Manusia, tidak menyebabkan penyakit yang parah

GEJALA KLINIS PADA BABI

* Demam tinggi
* Babi sering batuk (menyalak)
* Keluarnya discharge (lendir) dari hidung yang berlebihan
* Bersin – bersin
* Kesulitan bernafas (dyspnea)
* Nafsu makan berkurang
* Lemah dan lesu, bulu kusam dan mukosa mata kotor
* Pada babi bunting bisa mengalami keguguran (abortus)

CARA PENULARAN ATAU TRANSMISI PENYAKIT

* Sering terjadi di negara 4 musim, terutama pada musim gugur atau salju (musim dingin)
* Bisa juga terjadi di negara tropis pada musim apa saja dan kapan saja
* Proses penularan sangat cepat , melalui kontak langsung, udara, droplet (ingus/ cairan tubuh) dan peralatan tercemar
* TIDAK DITULARKAN MELALUI PRODUK PANGAN ASAL BABI (DAGING, SOSIS, dll)

PROSES PENULARAN KE MANUSIA

* Flu Babi bisa menular ke manusia tapi kejadiannya sangat jarang (di Mexico penderita tidak ada sejarah pernah kontak dengan babi)
* Gejala apabila manusia terinfeksi flu babi :
* Demam tinggi di atas 38 C
* Batuk, gatal-gatal, sakit kepala, badan nyeri dan linu, hidung tersumbat atau meler terus
* Kadang bisa terjadi muntah-muntah atau diare
* Penularan melalui kontak langsung atau dari manusia lain yang terinfeksi (kontak langsung atau udara)

SIFAT PENYAKIT

* Bisa bersifat akut (sangat cepat, dalam hitungan jam sampai hari)
* Bisa juga bersifat kronis atau subklinis (proses lama hari-minggu)
* Hal di atas tergantung terhadap sistem kekebalan (sistem imun) tubuh babi tersebut dan jenis virus yang menginfeksi

DIAGNOSA ,PENGOBATAN DAN PENGENDALIAN

* Bisa di diagnosa berdasar gejala klinis, isolasi virus (identifikasi jenis virus) di laboratorium menggunakan rapid test, ELISA, maupun PCR
* Untuk pengobatan sejauh ini tidak ada yang efektif, tapi untuk mencegah infeksi sekunder bakteri bisa diberikan antibiotika dan supportive therapy (pengobatan bertujuan untuk mengurangi keparahan pada gejala klinis yang terjadi)
* Vaksinasi, memperketat importasi babi dan produk turunannya, Good farming Practices, Biosecurity, dan animal welfare (kesejahteraan hewan)

LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL YANG DILAKUKAN

* Monitoring dan surveilans terhadap usaha peternakan babi yang berada di wilayah Jawa Barat
* Melakukan pengawasan secara ketat lalu lintas ternak babi hidup dan produk daging babi segar
* Melakukan pengawasan terhadap pemotongan ternak babi dengan menerapkan pemeriksaan ante mortem dan Post mortem serta hanya mengijinkan babi yang sehat saja yang dipotong
* Kegiatan sosialisasi
* Biosecurity di RPH babi, kandang maupun pos pengawasan lalu lintas ternak
* Bekerja sama antar instansi terkait

SARAN DAN REKOMENDASI

* Penertiban izin usaha peternakan babi sesuai dengan Perda tentang pengaturan usaha ternak babi.
* Pengawasan ketat terhadap lalu lintas ternak babi hidup dan produk asal babi
* Pengawasan yang ketat di RPH babi dengan penerapan pemeriksaan ante dan post mortem
* Untuk lalu lintas ternak babi hidup antar Kab/Kota dan atau antar Provinsi harus diperiksa Dokter Hewan, dan hanya ternak yang sehat yang dapat dilalulintaskan serta harus dilengkapi SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan) dari daerah asal
* Melakukan Kegiatan Sosialisasi tentang : tata laksana pemeliharaan babi dan menghindari pencemaran lingkungan, pemisahan ternak babi dengan ternak lainnya, peningkatan biosecurity, sistem pelaporan dini apabila ditemukan babi yang diduga terinfeksi flu babi kepada petugas kesehatan hewan berwenang

Link terkait flu babi:

* http://www.disnak.jabarprov.go.id/artikel-flu-babi
* http://id.news.yahoo.com/fc/flu-babi.html
* http://kesehatan.kompas.com